Tampilkan postingan dengan label OPEN SOURCE. Tampilkan semua postingan
[INFO TECH] Bos Android Akui Bahwa OSnya Tidak Aman. Benarkah?
Android dikenal sebagai sistem operasi yang
terbuka atau disebut sebagai open-source operating system. Terlepas dari
‘kebebasan’ yang bisa didapatkan dari sifatnya tersebut, ternyata
keterbukaan Android menjadikan sistem operasi paling popular di dunia
tersebut tidak aman. Hal tersebut bahkan diakui sendiri oleh bos
Android, Sundar Pichai, pada presentasinya di atas panggung MWC di kota
Barcelona.
“Kami tidak dapat menjamin bahwa Android itu aman, format sistem operasinya sendiri didesain untuk memberikan lebih banyak kebebasan. Ketika orang-orang berbicara mengenai 90% malware Android, mereka pasti tidak melupakan bahwa Android adalah sistem operasi paling popular di dunia. Jika saya memiliki sebuah perusahaan pembuat malware, saya juga akan menyerang Android,” tutur Pichai.
Sekilas, pernyataan Pichai tersebut merupakan sebuah pengakuan tentang kelemahan terbesar sistem operasi buatan Google. Namun jika diteliti lebih jauh, hal tadi bukanlah hal sebenarnya yang ingin Pichai sampaikan.
Android memang sistem operasi paling popular di dunia. Adalah hal yang sangat masuk akal jika banyak malware yang dibuat untuk menyerang Android. Yang Pichai ingin sampaikan sebenarnya adalah Android justru dipersenjatai dengan keamanan yang tinggi untuk menghindari penyerangan malware tersebut. Pichai hanya menyatakan bahwa Google tidak dapat menjamin bahwa Android itu 100% aman, seperti perusahaan lain tidak dapat menjamin hal tersebut. Kendati demikian, Google terus mengimplementasi berbagai macam langkah untuk menjaga keamanan pengguna Android salah satunya dengan memindai malware di Google Play Store dan pada perangkat pengguna menggunakan layanan Verify Apps. Google pernah menyatakan bahwa kombinasi tersebut memperkecil kemungkinan malware untuk menyerang Android.
Keberadaan layanan Verify Apps diperuntukkan untuk fitur ‘terbuka’ yang dibanggakan Google atas Android yakni kemampuan untuk men-sideload aplikasi. Bahkan, layanan Verify Apps dibuat untuk memindai aplikasi-aplikasi yang dipasang secara sideload karena Google telah memiliki fitur pengamanan tersebut pada Google Play Store untuk meringkus malware bahkan sebelum pengguna dapat mengunduh dan memasangnya pada ponsel mereka. Google berusaha sekuat tenaga untuk melindungi penggunanya. Pertanyaannya adalah: dapatkah pengguna Android melindungi dirinya sendiri? (Dalam kasus saat mereka memutuskan untuk memasang aplikasi secara sideload)
Pichai ingin penggunanya selalu menggunakan layanan Google yang keamanannya telah terjamin. Android memang tidak dibuat untuk menjadi sesuatu yang aman, Google Service-lah yang aman. Perlu dicatat bahwa di bawah kepemimpinan Pichai, Google Service terus di-update dengan banyak fitur. Google bahkan kini mendesak para pembuat ponsel Android untuk menggunakan Android paling baru jika ingin mendapatkan sertifikat Google Service. Tanpa Google Service, keamanan pengguna pun terancam.
Pernyataan Pichai yang banyak disalahartikan ini sebenarnya adalah sebuah peringatan bagi konsumen untuk dengan bijak memilih layanan yang terbaik baginya. Seperti yang kita ketahui, telah banyak Android modifikasi (forked) beredar luas. Contoh Android fork yang popular adalah Amazon di Amerika dan Xiaomi di Cina. Android fork yang paling baru adalah Android yang ada pada Nokia X. Seluruh Android fork tersebut tidak memiliki layanan Google yang berarti menjadikan mereka kurang aman dibanding perangkat dengan Google Service.
Sebelum Anda memutuskan untuk men-sideload aplikasi atau memilih perangkat tanpa Google Service, pikirkanlah lagi dengan matang.
“Kami tidak dapat menjamin bahwa Android itu aman, format sistem operasinya sendiri didesain untuk memberikan lebih banyak kebebasan. Ketika orang-orang berbicara mengenai 90% malware Android, mereka pasti tidak melupakan bahwa Android adalah sistem operasi paling popular di dunia. Jika saya memiliki sebuah perusahaan pembuat malware, saya juga akan menyerang Android,” tutur Pichai.
Sekilas, pernyataan Pichai tersebut merupakan sebuah pengakuan tentang kelemahan terbesar sistem operasi buatan Google. Namun jika diteliti lebih jauh, hal tadi bukanlah hal sebenarnya yang ingin Pichai sampaikan.
Android memang sistem operasi paling popular di dunia. Adalah hal yang sangat masuk akal jika banyak malware yang dibuat untuk menyerang Android. Yang Pichai ingin sampaikan sebenarnya adalah Android justru dipersenjatai dengan keamanan yang tinggi untuk menghindari penyerangan malware tersebut. Pichai hanya menyatakan bahwa Google tidak dapat menjamin bahwa Android itu 100% aman, seperti perusahaan lain tidak dapat menjamin hal tersebut. Kendati demikian, Google terus mengimplementasi berbagai macam langkah untuk menjaga keamanan pengguna Android salah satunya dengan memindai malware di Google Play Store dan pada perangkat pengguna menggunakan layanan Verify Apps. Google pernah menyatakan bahwa kombinasi tersebut memperkecil kemungkinan malware untuk menyerang Android.
Keberadaan layanan Verify Apps diperuntukkan untuk fitur ‘terbuka’ yang dibanggakan Google atas Android yakni kemampuan untuk men-sideload aplikasi. Bahkan, layanan Verify Apps dibuat untuk memindai aplikasi-aplikasi yang dipasang secara sideload karena Google telah memiliki fitur pengamanan tersebut pada Google Play Store untuk meringkus malware bahkan sebelum pengguna dapat mengunduh dan memasangnya pada ponsel mereka. Google berusaha sekuat tenaga untuk melindungi penggunanya. Pertanyaannya adalah: dapatkah pengguna Android melindungi dirinya sendiri? (Dalam kasus saat mereka memutuskan untuk memasang aplikasi secara sideload)
Pichai ingin penggunanya selalu menggunakan layanan Google yang keamanannya telah terjamin. Android memang tidak dibuat untuk menjadi sesuatu yang aman, Google Service-lah yang aman. Perlu dicatat bahwa di bawah kepemimpinan Pichai, Google Service terus di-update dengan banyak fitur. Google bahkan kini mendesak para pembuat ponsel Android untuk menggunakan Android paling baru jika ingin mendapatkan sertifikat Google Service. Tanpa Google Service, keamanan pengguna pun terancam.
Pernyataan Pichai yang banyak disalahartikan ini sebenarnya adalah sebuah peringatan bagi konsumen untuk dengan bijak memilih layanan yang terbaik baginya. Seperti yang kita ketahui, telah banyak Android modifikasi (forked) beredar luas. Contoh Android fork yang popular adalah Amazon di Amerika dan Xiaomi di Cina. Android fork yang paling baru adalah Android yang ada pada Nokia X. Seluruh Android fork tersebut tidak memiliki layanan Google yang berarti menjadikan mereka kurang aman dibanding perangkat dengan Google Service.
Sebelum Anda memutuskan untuk men-sideload aplikasi atau memilih perangkat tanpa Google Service, pikirkanlah lagi dengan matang.
males kesekolah tapi pengen belajar? Kelaskita.com solusinya ^^
Males Sekolah gara Guru ngeselin?
tapi kalian masih pengen belajar?
Kelaskita.com – Yap, mungkin belum banyak orang yang tahu mengenai kelaskita.com. Bahasa mudahnya di kelaskita.com kita bisa belajar bersama-sama secara daring (dalam jaringan) baik dengan teman,tim, atau komunitas. Disini terdapat berbagai kelas-kelas yang berbeda tergantung topik atau tema dari apa yang akan dipelajari di Kelas tersebut. Misalnya kamu ingin belajar online bahasa pemrogramman web, maka kamu bisa mendaftarkan diri untuk menjadi murid dikelas yang mengajarkan hal tersebut. Bahkan jika kamu ingin berbagi pengetahuan anda, kamu bisa mendaftarkan diri sebagai mentor atau guru dan membuat kelas anda sendiri, tentu saja yang akan mengatur kelas tersebut tidak lain adalah guru dikelas tersebut.
Lalu, apa bedanya dengan kita belajar diblog-blog yang menyediakan artikel atau di Group Facebook yang bertebaran?. Kelaskita berbeda dikarenakan memang khusus dibuat sebagai elearning platform berbasis web dan menyediakan berbagai fitur-fitur untuk menunjang kita dalam hal belajar bersama-sama. Mengikuti kelas disini kamu gak perlu bayar alias gratis, yang diperlukan cuma koneksi Internet untuk mengakses situs kelaskita.com. Sepintas aku lihat fitur-fitur yang ada dikelaskita.com hampir sama persis seperti kelas-kelas yang biasanya, ada nilai peserta murid, ada tugas-tugas yang harus dikerjakan, ada juga hasil raport yang akan didapatkan para peserta. Untuk selengkapnya bisa dibaca disini.
Tertarik untuk mencobanya?
author : Belia Rizky Lazuardi
tapi kalian masih pengen belajar?
Kelaskita.com – Yap, mungkin belum banyak orang yang tahu mengenai kelaskita.com. Bahasa mudahnya di kelaskita.com kita bisa belajar bersama-sama secara daring (dalam jaringan) baik dengan teman,tim, atau komunitas. Disini terdapat berbagai kelas-kelas yang berbeda tergantung topik atau tema dari apa yang akan dipelajari di Kelas tersebut. Misalnya kamu ingin belajar online bahasa pemrogramman web, maka kamu bisa mendaftarkan diri untuk menjadi murid dikelas yang mengajarkan hal tersebut. Bahkan jika kamu ingin berbagi pengetahuan anda, kamu bisa mendaftarkan diri sebagai mentor atau guru dan membuat kelas anda sendiri, tentu saja yang akan mengatur kelas tersebut tidak lain adalah guru dikelas tersebut.
Lalu, apa bedanya dengan kita belajar diblog-blog yang menyediakan artikel atau di Group Facebook yang bertebaran?. Kelaskita berbeda dikarenakan memang khusus dibuat sebagai elearning platform berbasis web dan menyediakan berbagai fitur-fitur untuk menunjang kita dalam hal belajar bersama-sama. Mengikuti kelas disini kamu gak perlu bayar alias gratis, yang diperlukan cuma koneksi Internet untuk mengakses situs kelaskita.com. Sepintas aku lihat fitur-fitur yang ada dikelaskita.com hampir sama persis seperti kelas-kelas yang biasanya, ada nilai peserta murid, ada tugas-tugas yang harus dikerjakan, ada juga hasil raport yang akan didapatkan para peserta. Untuk selengkapnya bisa dibaca disini.
Tertarik untuk mencobanya?
author : Belia Rizky Lazuardi
Rilis Eksperimen Emulator Ubuntu Touch
Berdasarkan wiki, Emulator Ubuntu Touch sudah fungsional, tapi terdapat beberapa hal yang harus dikerjakan. Misalnya, Powerd dan AppArmor dinonaktifkan secara bawaan untuk sekarang. Juga, booting pertama memakan beberapa menit dan juga kemungkinan untuk Qemu akan hang ketika proses booting. Di uji coba yang mimin lakukan, papan ketik sebelah kanan tidak dapat bekerja dan Unity cukup lambat tapi tetap berfungsi.
Ini adalah beberapa tangkapan layar Emulator Ubuntu Touch (dengan Unity 8 & Mir):
Pasang Emulator Ubuntu Touch
Jika kamu udah update atau mempunyai Ubuntu versi 14.04 Trusty Tahr, kamu udah bisa memasang Emulator Ubuntu Touch dari repositori Ubuntu:
sudo apt-get update
sudo apt-get install android-emulator
cp -r /usr/share/android/emulator/ ~/
cd ~/emulator/
./build-emulator-sdcard.sh
./run-emulator.sh
Peringatan: Jika kamu make yang 64bit, jangan menghapus emulator dan menjalankan “apt-get autoremove” dikarenakan hal tersebut akan merusak sistem anda. Info selanjutnya bisa dilihat di wiki Emulator Ubuntu Touch
Pertama kali kamu menjalankan emulator, proses booting akan memakan waktu yang agaaaaaaaaaaaaaaak lama. Ketika telah selesai, sebuah shell dengan Ubuntu Touch akan berjalan, menanyakan kamu untuk memasukkan nama pengguna dan kata kunci:
Nama pengguna dan kata kunci adalah “phablet” (tanpa tanda kutip). Setelah itu, ini akan memakan waktu beberapa menit lagi dan Unity8 dengan Mir seharusnya sudah termuat di Emulator Ubuntu Touch. Untuk info lebih atau jika kamu pengen membangun Emulator Ubuntu Touch dari sumber, silahkan lihat instruksinya di wiki.
selamat mencoba ^^
Langganan:
Postingan (Atom)
